Senin, 29 Juni 2009

AWAL PERUBAHAN ATAU AWAL KEHANCURAN
(Tulisan ini dimaksudkan untuk memperkuat aksi yang diadakan BEM sebandung raya dalam rangka penyeruan gerakan 4 C pada tanggal 25 juni 2009)

Melihat sejarah perjalanan bangsa yang cukup panjang ini, tentu semuanya anak bangsa ini sepakat bahwa bangsa yang besar ini haruslah sudah bisa berubah, berubah kearah yang lebih baik dan sejahterah bukan malah sebaliknya, dimana permasalahan-permasalahan yang terjadi semakin hari semakin kompleks dan tidak pernah ditemui jalan penyelesainya. Ya, sejak reformasi yang telah dilakukan tahun 1998, harapan demi harapan akan perubahan itu pun menjadi agenda pokok dalam setiap tata pemerintahan yang dibangun, agenda akan adanya pemerintahan yang bersih dan kuat, demokratis, kehidupan yang lebih baik, perekonomian yang memihak kepada rakyat kecil, pendidikan yang layak, berkulitas dan terjangkau, penciptaan lapangan pekerjaan, pemerataan pembangunan, dsb. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang, sudah sejauh mana kita berhasil melangkah untuk mewujudkan agenda reformasi tersebut? Ya bisa dikatakan masih jauh dari harapan atau mungkin kita sama sekali belum bergerak dari cita-cita reformasi yang telah dilakukan tersebut. Tapi walaupun begitu, harapan akan perubahan itu masih besar dari setiap anak bangsa yang sudah terlalu muak dengan keadaan bangsa sekarang dan hadirnya pemilu menjadi harapan tersendiri untuk mewujudkan agenda reformasi tersebut.
Pemilu yang terjadi, terlebih semenjak setelah reformasi yang dilakukan 11 tahun silam bukan hanya sekedar agenda kultural bangsa yang dilakukan dalam 5 tahunan sekali, tetapi ada makna dan tujuan luhur yang terkandung didalamnya, dimana makna itu adalah wujud dari demokrasi yang telah dianut dan dipahami sebagai bahwa rakyatlah yang berdaulat atas nasib dan perjalanan bangsanya. Sementara tujuan dari pemilu tersebut adalah melahirkan suatu pemerintahan yang kuat, bersih, legimited, dan berasal dari kehendak rakyat sebagai yang berdaulat. Maka oleh sebab itu, pemilu akhirnya bisa dipahami sebagai gerbang awal menuju suatu perubahan bangsa kedepan yang lebih baik apabila pemilu dilakukan dengan baik pula, dimana hak rakyat sebagai yang berdaulat diberi kebebasan secara mutlak untuk bisa memberikan suaranya dan aspirasinya dalam memilih maupun dipilih calon-calon pemimpin bangsa kedepannya. Namun dibalik itu, pemilu bisa juga menjadi bom waktu yang setiap saat bisa akan meledak yang membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi bangsa ini, apabila pemimpin yang hadir bukanlah pemimpin yang benar-benar dekat dengan rakyat dan memperjuangkan hak-hak rakyat, khususnya rakyat menengah kebawah. Inilah pada akhirnya, hadirnya pemilu tersebut menjadi suatu tantangan tersendiri yang harus dijawab dengan baik dan bijak pula untuk dapat menyelesaikan setiap permasalahan bangsa ini kedepannya, terutama tepatnya dikalangan intelektual dan akademisi yang mempunyai tanggung jawab lebih untuk bisa memberikan wajah-wajah perubahan bagi bangsa Indonesia kedepan dengan menghadirkan sederetan solusi bersamaan dengan lahirnya pemimpin yang tepat pula.

Pemilu RI 2009
Ada awal, pasti ada akhirnya. Ada suatu rangkaian kegiatan, pasti ada suatu rangkaian proses yang terkandung didalamnya. Begitu jugalah dengan pemilu 2009 yang dilakukan sekarang, mulai dari pemilu legislative yang telah berlangsung dan sekarang yang hanya menyisahkan beberapa tahap lagi menuju pemilihan calon presiden dan wakil presiden 2009 -2014. Sama dengan pemilu 2004, dimana pemilu tersebutlah kita (rakyat) secara mutlak bisa menentukan secara langsung pemimpin-pemimpin yang kita percayai dalam memberikan suatu pencerahan-pencerahan dan solusi dari setiap permasalahan bangsa selama ini. Lahirnya pemerintahan tahun 2004 silam, mulai dari pemerintahan legislative dan eksekutif pada dasarnya belum bisa menjawab secara tuntas permasalahan yang ada, bahkan masih jauh dari harapan kita semua. Ini bisa dilihat dari faktanya bahwa kemiskinan yang masih tinggi, pengganguran yang belum terselesaikan, birokrasi yang tidak memihak dan terlalu berbelit-belit, percepatan pemerataan pembangunan yang merata disiap sektor dan daerah, dsb yang menyimpulkan bahwa pada akhirnya bangsa ini harus bekerja lebih keras lagi untuk bisa membawa perubahan-perubahan tersebut. Pengalaman demi pengalaman dari masa lalu ini haruslah pula menjadi suatu pembelajaran berharga bagi bangsa ini, khususnya bagi pemimpin yang akan lahir memimpin bangsa ini dalam 5 tahun mendatang. Dia yang akan hadir adalah orang yang benar-benar mengerti betul secara fundamental setiap permasalahan bangsa yang ada, yang kemudian diikuti dengan pandangan dan strategi serta solusi yang kongkrit dan terukur untuk dapat menjawab permasalahan tersebut. Selain itu juga, dia yang hadir adalah orang yang bisa memberikan suatu targetan-targetan perubahan dan perkembangan untuk Indonesia kedepan.
Disadari atau tidak, sekarang kita hanya tinggal menunggu waktu sebelum tanggal 8 Juli mendatang kita dihadapkan untuk memilih calon pemimpin tersebut. Waktu yang pendek dan singkat ini haruslah dimamfaatkan dengan sebaik-baiknya pula, dimana terdapat 3 pasangan calon yang bersaing dalam memperebutkan tahta orang nomor 1 dan 2 di bangsa ini. Secara umum, visi dan misi dari ketiga calon pemimpin tersebutlah hampirlah sama, dimana perjuangan yang mereka lontarkan adalah perjuangan yang memimpikan suatu perubahan bagi bangsa ini. Mengapa lalu dikatakan sekedar memimpikan? Karena jelas, pandangan dan solusi dari pasangan calon yang adapun, bisa dikatakan hanya baru sebatas pandangan dan solusi yang umum dan normative (yang seharusnya), tidak ada suatu terobosan-terobosan baru yang setidaknya dapat memberikan suatu kelegaan dan gambaran akan suatu perubahan. Memang pada dasanya semua itu tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan, bangsa ini terlalu besar dan terlalu kompleks, tapi bukankah akan sangat menyedihkan sekali bila pemimpin yang hadirpun tidak sama bedanya dengan orang-orang yang tau bermimpi, bermimpi bahwa bangsa ini akan lebih baik, sejahterah, tanpa melakukan suatu kerja keras dan terobosan-terobosan baru. Hal ini menjadi penting karena kebijakan yang diambil serta langkah dan strategi yang diambil pula akan stergantung pada siapa yang akan mememimpin Indonesia kedepan, minimal untuk Indonesia 5 tahun mendatang.
Oleh karena itu, aksi yang diadain oleh mahasiswa BEM sebandung raya ini menyusung suatu peringatan kepada kita semua, baik calon pemimpin bangsa ini, masyarakat, mahasiswa, dan semua elemen lainnya agar lebih peka dan peduli untuk bersama-sama meyongsong Indonesia yang lebih baik lewat pemilu yang telah berlangsung sekarang. Untuk calon pemimpin bangsa ini diharapakan lebih bisa memberikan solusi yang mendalam lagi terhadap bangsa yang terjadi dengan terobosan-terobosan yang akan dilakukan dan untuk masyarakat Indonesia yang akan menjadi penentu lahirnya pemimpin tersebut haruslah lebih bijak dan lebih kritis sebelum pada akhirnya menentukan pilihan pada tanggal 8 Juli mendatang. Maka oleh sebab itu, Kami ingin menyerukan gerakan 4 C, yaitu :
  1. Catat track Record-nya (Masa Lalunya)
  2. Catat Visi, Misi dan Program Kerjanya
  3. Catat Janji-Janjinya
  4. dan jangan lupa Catat bahwa tanggal 8 Juli kita datang bersama-sama untuk mencontreng satu kali.

Akhinya, izinkan kami menyerukan kembali “saatnya lah kita bergerak bersama-sama untuk menghadapi sederetan permasalahan dan tantangan bangsa ini kedepan dengan suatu penyelesaian dan terobosan-terobosan yang solutif serta tindakan yang konkrit agar Indonesia ini bisa tersenyum kembali”

Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater ……. MERDEKA !!!

Indonesia Harus Bisa Kembali Tersenyum” …...Salam Mahasiswa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar